Dampak Covid 19 Terhadap Pendidikan di Indonesia
Sudah setahun lebih semenjak covid 19 tiba di Indonesia. Berawal dari sekolah yang rencananya hanya diliburkan 2 minggu sampai isu belajar tatap muka yang belum mendapat kejelasan. Banyak hal yang telah terjadi selama pembelajaran jarak jauh diberlakukan. Baik dari murid yang sulit menerima pelajaran, masalah kuota dan koneksi intenet, sampai orang pedalaman yang belum sanggup menerima perubahan ini.
Pembelajaran jarak jauh ini sangat tidak efektif jika dilihat ketika guru mengajar. Peserta didik juga sering tidak fokus jika terlalu lama duduk menatap layar gadget. Karena terkadang semua mata pelajaran hari itu belajar menggunakan zoom, hal ini bukan hanya melelahkan mata namun juga dapat menguras kuota. Tugas-tugas juga terkadang banyaknya tidak masuk akal di awal pandemi. Meskipun murid memiliki lebih banyak waktu untuk belajar, akan tetapi tidak semua anak memiliki daya tangkap yang sama ketika belajar secara otodidak.
Hal yang juga menjadi permasalahan orang tua serta murid adalah uang bulanan sekolah. Masih adanya instansi pendidikan yang mengharuskan peserta didik membayar penuh uang bulanan sekolah juga menjadi beban. Bahkan sebagian orang tidak mendapatkan benefit apa-apa dari yang dibayarkan itu. Peserta didik tidak dapat memakai gedung bahkan sebagian tidak dapat bantuan kuota internet sehingga orang tua harus mengeluarkan biaya lebih untuk kebutuhan anaknya.
Meskipun harus diakui pembelajaran tatap muka ini menguntungkan sebagian murid yang memang tidak terlalu tertarik dengan pelajaran sekolah dan ingin mengembangkan apa yang memang dia suka. Dia jadi memiliki banyak waktu untuk itu. Dan lagi peserta didik yang memang tinggal jauh dengan kampus tidak harus mengeluarkan uang ongkos.
Jadi menurut saya pembelajaran daring ini memiliki barang kekukarangan. Namun masih bisa diperbaiki. Apabila uang gedung dan tugas diminimalisir maka pembelajaran daring dapat lebih dinikmati oleh peserta didik.










